Blog ini dibuat untuk memberikan informasi mengenai seni, budaya, teknologi, serta destinasi wisata

  • Budaya

    Halaman ini memuat tentang kebudayaan

  • Seni Musik

    Halaman ini memuat tentang seni musik

  • Seni Tari

    Halaman ini memuat tentang seni tari

  • Teknologi

    Halaman ini memuat informasi teknologi (IT)

  • Destinasi Wisata

    Halaman ini memuat tentang pariwisata

Featured post

Pura Luhur dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa

Pura dan Asal-Usul Pretisentana Bhujangga Waisnawa       Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. perkataan ini menj...

Showing posts with label Seni Musik. Show all posts
Showing posts with label Seni Musik. Show all posts

Sunday, 10 May 2020

Membuat Seruling dari Pipa PVC Rasa Saxophone

Haloow.... selamat datang kembali di blog ini, dan hari ini kembali saya akan memberikan tutorial bagaimana cara membuat Seruling Bali dari pipa PVC. Namun seruling ini suaranya hampir mirip dengan saxophone. Seruling merupakan alat musik tiup dan biasanya dimainkan secara solo ataupun sebagai pengiring melodi gambelan.


Nah, untuk cara membuatnya saya akan jelaskan dibawah ini, untuk bahan-bahan yang diperlukan adalah :

Pipa PVC


Balon karet


Karet Gelang
Skrip Rambut Wanita
Lakban / Selotip


  1. Pipa pvc ukuran 1/2 inchi
  2. Balon karet
  3. Dua buah karet gelang
  4. Skrip rambut wanita ukuran 7 cm
  5. Lakban / Selotip Hitam

Cara membuatnya :

  •      Lubangi pipa sesuai dengan ukuran berikut ini

  • Gunting balon karet tersebut tepat bagian lehernya yang nantinya dipergunakan untuk tempat masuk dan keluar anginnya
  • Setelah pipa pvc dilubangi lekukan skrip rambut wanita menyerupai bentuk "L"
  • Posisikan skrip rambut wanita tersebut disebelah belakang pipa yang telah dilubangi
  • Ikat skrip wambut wanita tersebut dengan karet gelang bagian atas dan bagian bawahnya
  • Agar terlihat rapi rekatkan lakban / selotip pada karet gelang tersebut.
  • Balon karet ditarik dan dipasang ke ujung skrip rambut tersebut 
  • Seruling telah bisa digunakan
Nah, demikian tutorial cara membuat seruling dari pipa pvc dengan nuansa saxophone, untuk lebih jelasnya kalian bisa cek youtube dibawah ini, mohon dibantu untuk like, share dan subscribe agar saya bisa lebih bersemangat lagi dalam membuat konten-konten yang bermanfaat.
terima kasih


Share:

Friday, 24 April 2020

Membuat Alat Musik Rebab dari Barang Bekas (Musik Tradisional)


                  
Mungkin barang bekas merupakan benda yang tidak ternilai harganya.  Namun jika barang bekas tersebut dipilah dan didaur ulang akan menghasilkan suatu karya seni yang sangat ternilai. Barang bekas dapat dijadikan barang kerajinan tangan maupun alat musik.
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi barang baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 4R (Reduce, Reuse, Recycle, and Replace).
Untuk kesempatan kali ini saya ingin berbagi kepada kalian cara membuat alat musik gesek (rebab) yang terbuat dari pipa paralon dan kaleng bekas. Selain untuk menghemat biaya juga bisa digunakan untuk pembelajaran.

          Bahan-bahan :
  1. Pipa paralon bekas
  2. Kaleng bekas
  3. Kawat pancing stainless trolling dan leader wire ukuran 25 (hard)
  4.  Triplek bekas
  5. Mika plastik
  6. Paku ulir 3 buah
  7. Selotip / Double Tipe / Lem Tembak
  8. Penggesek rebab , atau bisa menggunakan bow (penggesek pada biola), atau bisa dibuat menggunakan papan triplek atau gantungan baju. Penggesek menggunakan tali plastik ukuran yang paling kecil dan diikat pada masing-masing ujungnya
  9. Hars / Rosin berfungsi untuk membuat penggesek rebab menjadi keset dan tidak licin. Tujuan utamanya untuk memberikan aksen suara ketika digesek.








         Cara Membuat :
  1. Berikan lubang pada pipa paralon
    • Bawah pipa diberikan lubang 1 di bagian depan tujuannya untuk penyangga senar
    • Atas pipa diberikan lubang kecil 2 di bagian depan pipa
    • Kanan dan kiri pipa bagian atas diberikan lubang sebanyak 2 buah
  2.  Lubangi kaleng bekas pada ujung atas dan ujung bawah, usahakan agar dekat dengan pinggiran kaleng


  3.  Pasang paku ulir pada bagian bawah dan bagian atasnya.
     
    • Pada bagian bawah untuk tempat penyangga senar
    • Pada bagian atas tempat untuk menyetel senar
  4.  Potong mika plastik berbentuk lingkaran dan ditempel pada depan kaleng, usahakan agar plastik tersebut kencang dan tidak kendor
  5. Pasang kawat stainless pancing pada paku ulir pertama kemudian diikuti sampai bawah, pada bagian bawah buat lilitan agar kawat bisa disambungkan ke atas. Setelah sampai diatas dililit kembali. Usahakan agar senar tidak kendor, dan tidak terlalu kencang
  6. Bentuk triplek bekas berbentuk prisma ukurannya sekitar 2 cm, dan buat 2 buah guratan untuk tempat senar sebagai penyangga.
  7.  Buat penggesek biola dengan bahan triplek atau gantungan baju dan diikat tali plastik ukuran paling kecil, diikat menjadi satu agar terlihat banyak.
  8. Gosokan hars/rosin pada tali plastik tersebut (penggesek) bertujuan untuk memberikan aksen suara saat digesek.
  9. Alat musik rebab sudah bisa digunakan.

Untuk hasilnya saya upload di youtube, mohon untuk like, subscribe dan share. Agar saya bisa bersemangat membuat eksperiment yang menarik lagi.  Terima kasih

Selamat Mencoba dan Semoga Berhasil
Share:

Thursday, 29 November 2018

Alat Musik Penting (Mandolin) Ciri Khas Karangasem



Seni gamelan khas dan langka Karangasem yang diberi nama “Penting” atau bisa disebut dengan Mandolin. Kesenian Penting pernah mencapai masa keemasannya pada masa-masa akhir kerajaan Karangasem. Sampai pada era tahun 1980-an kesenian ini masih mudah dijumpai dalam bentuk perorangan maupun seka dan pernah beberapa  kali tampil di televisi dan di PKB.   Namun setelah beberapa tahunnya Kesenian Penting mulai kelam, karena kebanyakan tokoh-tokohnya meninggal dunia. Disamping itu desakan dari kesenian modern dan perkembangan dunia modern membuat kesenian penting ini semakin terancam, karena minat dari kalangan anak muda untuk memainkan alat musik ini agak kurang. Anak muda jaman sekarang lebih ke genre musik modern seperti memainkan gitar.

Seiring berkembangnya zaman sedikit demi sedikit kesenian penting sudah mulai diminati kembali. Banyaknya sekaa penting sudah bersinergi di sanggar-sanggar kesenian maupun komunitas kesenian.  Sesudah itu  muncul Sekaa Penting binaan Puri Gede Karangasem koordinator Ida Bagus Jaya Negara, S.H. Peminat kalangan muda untuk memainkan alat musik penting sudah semakin meningkat, lagu-lagu klasik dan perkembangan kesenian inovatif yang terdapat alat musik penting sudah mulai berkembang. Alat musik penting sudah dikolaborasikan dengan genjek, dengan gong suling, serta joged bumbung. Penulis berharap semua kesenian di Bali pada khusunya dan di Indonesia pada umumnya semakin mengancah dunia internasional.


Share:

Tuesday, 27 November 2018

Alat Musik Tradisional Bali ( Rindik Bambu ) dan Video

 

Sejarah Singkat Alat Musik Rindik

Seperti Dikutip Dari Wikipedia. Sejarah Alat Musik ini Berawal ketika pihak wengker atau ponorogo melakukan pemberontakan kepada majapahit, dan ketika adanya serbuan dari Demak angklung-angklung dan gamelan di bawa ke Bali sehingga mengalami kerusakan. Pada saat berada di bali, orang majapahit mengalami kesulitan dalam merangkai gamelan termasuk Angklung, angkung ini berubah nama menjadi rindik yang berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti di tata dengan rapi dengan celah yang sedikit. walaupun angklung reyog berhasil dirangkai dan terciptanya alat musik Rindik, Angklung Reyog tetap di gunakan untuk keperluan keagamaan dan kesenian hingga era kerajan Bali. Tetapi saat ini sudah tidak di teruskan seniman bali karena tidak mencerminkan keraifan lokal Bali.

Fungsi Alat Musik Rindik

Alat musik ini terbuat dari bambu yang bernada selendro dan dimainkan dengan cara dipukul. dan biasanya dimainkan oleh 2-5 orang pemain, di mana 2 orang menabuh Rindik dan sisanya untuk seruling dan gong pulu.
Pada awalnya fungsi alat musik rindik hanya dibuat sebagai alat untuk menghibur para petani di sawah. Rindik juga biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat Joged Bumbung. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.
Alat musik ini biasanya di pergunakan pada upacara perkawinan dan acara pertunjukan yang di kenal dengan nama "joged Bumbung" Tarian joged bumbung ini biasanya di iringi oleh sepuluh atau duapuluh orang yang memainkan gamelan dan termasuk para penabuhnya. Dan Bisa juga di pakai atau di mainkan di hotel-hotel untuk mengibur para tamu yang berkunjung ke Bali.
Bentuk Alat Musik Rindik
Rindik merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang sudah dipotong-potong dan ditata sesuai ukurannya. Jumlah potongan bambu tersebut biasanya terdiri dari 11 buah sampai 13 buah. Setiap buah bambu memiliki ukuran yang berbeda dan nada yang berbeda pula. Semakin besar ukuran bambu maka semakin bernada rendah, seBaliknya semakin kecil bambu tersebut maka semakin tinggi nada yang dihasilkan. Bambu tersebut ditata diatas tempat(pelawah) dimulai dari nada paling rendah di sudut kiri hingga nada paling tinggi di sudut paling kanan.
Nada yang dihasilkan oleh Rindik ini merupakan nada Pentatonic atau Laras slendro, yang berarti hanya memiliki 5 nada utama. Rindik ini dimainkan dengan menggunakan 2 buah alat pemukul yang terbuat dari karet dan memiliki ukuran yang berbeda. Pemukul berukuran besar biasanya digunakan di tangan sebelah kiri begitu juga sebaliknya. Hal ini dikarenakan nada paling kiri lebih rendah sehingga saat dimainkan terdapat sebuah keseimbangan nada.
Cara Memainkan Alat Musik Rindik
Cara memainkan Rindik ini juga membutuhkan keahlian khusus dan feel yang cocok. Rindik biasannya dimainkan dengan dua tangan, dimana fungsi keduanya berbeda. Pada tangan kanan memainkan kotekan sedangkan yang kiri memainkan melodi. Sehingga apabila digabungkan akan menghasilkan suara yang merdu.
Pemain Rindik juga dibedakan menjadi dua macam, yang pertama memainkan pokok lagu/gendhing, dan satunya memainkan sangsih. Apabila keduanya dipadukan maka akan menghasilkan suara yang harmonis.Dalam permainan Rindik juga terdapat teknik pukulan yang dinamakan ngundil, yaitu teknik pukulan yang dilakukan tangan kiri pemain sangsih dimana pukulan tersebut menyelingi pukulan tangan kiri pemain pokok yang sudah divariasikan. Pada pertunjukan joged bumbung, teknik seperti itu sering disebut dengan jegog.
Perkembangan Alat Musik Rindik
Dalam perkembangannya, musik Rindik menjadi salah satu alat musik yang lebih fleksibel dan memiliki fungsi yang lebih banyak. Selain bisa digunakan sebagai pengiring pertunjukan tari, musik Rindik juga bisa ditampilkan sebagai pertunjukan musik seperti pengiring pernikahan dan resepsi. Selain itu juga bisa ditampilkan di acara festival budaya, penyambutan tamu besar dan acara budaya lainnya.
Sekian pengenalan tentang “Rindik Alat Musik Tradisional Dari Bali”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kesenian tradisional di indonesia.

Share:

Pengertian dan Pemakaian Gender Wayang ( Alat Musik Tradisional Bali)


Gender Wayang adalah barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari sepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang dipergunakan.
Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan. Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang.
Pertunjukan wayang kulit yang lengkap biasanya memakai sejumlah tabuh yang berdasarkan fungsinya.

Tabuh-tabuh yang dimaksud antara lain:
  • Pategak (pembukaan) yang merupakan tabuh instrumentalia
  • Tabuh Pamungkah gending-gending untuk mengiringi dalang melakukan puja mantra persembahan, membuka kotak wayang (kropak)
  • Tabuh Patangkilan gending untuk mengiringi adegan pertemuan/persidangan
  • Tabuh angkat-angkatan gending untuk mengiringi adegan sibuk seperti keberangkatan laskar perang dan perjalanan
  • Tabuh rebong gending untuk mengiringi adegan roman
  • Tabuh tangis gending untuk mengiringi suasana sedih
  • Tabuh batel gending untuk mengiringi adegan perang
  • Tabuh panyudamalan  gending khusus untuk mengiringi upacara pangruwatan (dalam Wayang Sapuh Leger)




 
Ibarat musik modern, aliran dari instrumen atau gamelan gender ini adalah jazz. Jadi jika ingin belajar main gender, selain belajar cara menggenggam dan memukul, juga butuh menyerap lirik lagu dengan ekstra. Karena keunikan ini, gender kini banyak dipelajari oleh orang-orang Jepang, Korea, dan USA.

Di Bali, instrumen gender kebanyakan digunakan saat upacara manusa yadnya seperti potong gigi, pawiwahan (perkawinan) dan menek kelih,

Kesenian wayang kulit di Bali juga diiringi dengan menggunakan gamelan gender wayang atau Pewayangan dalam pementasan atau pertunjukannya.

Dikutip dalam Babad Bali, Gamelan Gender Wayang dengan instrumen yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari :
  • Sepasang gender pemade (nada agak besar).
  • Sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang dipergunakan.

Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan.

Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang. 


Share:

Tuesday, 25 April 2017

Pengertian dan Bagian Instrument Rebab Bali

PENGERTIAN REBAB BALI








A . Rebab
Rebab merupakan salah satu nama tungguhan atau instrumen gesek yang digunakan dalam jenis-jenis barungan yang terdapat di Daerah-daerah tertentu seperti daerah Bali,Jawa Timur,Jawa Tengah.Jawa Barat,Sumatra, dan sebagainya
Di Jawa Barat terdapat dua bentuk instrumen gesek, yaitu Rebab dan Tarawangsa.kedua instrumen ini ukurannya berbeda,selain ukurannya yang berbedsa,warna suaranya pun juga berbeda karena membran yang berbeda
Di Sumat5ra Barat ( Minangkabau ) instrumen Rebab disebut dengan rabab.ada tiga bentuk/jenis rebab yang berbeda yang berkembang di Minangkabau, yaitu :
  • Rabab Darek
  • Rebab Pariaman
  • Rebab Pasisir
Adapun kesamaan antara tungguhan instrumen rebab dari masing-masing daerah yaitu sama-sama menggunakan alat gesek,menggunakan sejenis senar atau kawat,terdapat bagian menyetel kawat untuk menimbulkan nada,dan menggunakan  resonator.
Dalam menggarap gending,Rebab dimainkan dengan cara kawat atau yang sejenisnya digesek dengan penggesek yang arahnya maju dan mundur secara bebas,kecuali Rebab Jawa Tengah yang digunakan pada barungan gamelan Ageng,maju mundurnya gesekan rebab ditentukan oleh kedudukan nada.
Tungguhan rebab bali dalam menggarap gending tidak ditentukan baik dalam menggarap gending-gending instrumental mauoun vokal ( Tembang Daerah ). Menurut pengamatan kami keberadaan rebab di Bali dapat dikatakan masih asing karena sedikitnya barungan gamelan yang menggunakan maupun jumlah penyajiannya yang relatip sedikit dibandingkan dengan jenis tungguhan lainnya seperti tungguhan kendang, pemade, kantil, kempul, kajar, ceng-ceng, gong, dan yang lainnya.
Adapun barungan gamelan yang seharusnya menggunakan tungguhan rebab seperti :
  • Gong kebyar
  • Gong Suling
  • Semar pagulingan Saih Lima
  • Semar pagulingan Saih Pitu
  • Pangarjan
  • Pagambuhan
Tungguhan rebab dalam jenis-jenis barungan gamelan tersebut mempunyaifungsi yang berbeda terutama dari segi musikal.misalnya dalam barungan gamelan pegambuhan,tungguhan rebab merupakan salah satu tunguhan yang menggarap atau menyajikan melody atau gending pada seluruh sajian gending repertoar.dalam barungan gamelan Pegambuhanselain gamelan Pegambuhan yang menggarap atau menyajikan juga tungguhan Suling yang berukuran besar ataub sering disebut Suling Pagambuhan,sedangkan tungguhan rebab pada jenis-jenis barungan gamelan lainnya,peranan rebab tidak seperti barungan gamelan lainnya,peranan rebab tidak seperti barungan gamelan Pegambuhan,yaitu lebih menekankjan pada pemantapan hasiln sajian suatu gending atau sering juga disebut oleh masyarakat luas adalah untuk memaniskan gending.dalam baarungan gamelan ini (  selain barungan pegambuhan ) tidak semua sajian gending atau bagian gending yang menggunakan tungguhan rebab seperti dalam gending Gong Kebyar,pada bentuk atau bagian gending Kebyar, babelat, sajian tabuhan tunggal.meskipun peranan tungguhan rebab dalam jenis-jenis  barungan gamelan tersebut hanya terbatas untuk memaniskan sajian gending tapi dapat menentukan kualitas sajian gending secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil penelitian penulis tahun 1980-an,di Bali hanya dapat ditemui beberapa orang seniman yang memiliki predikat sebagain pengrebab, yaitu:
  • I Wayan Barug ( Almarhum )
  • I Ketut Mertu ( Almarhum )
  • I Made Lemping ( Almarhum )
  • I Wayan Lotok ( Almarhum )
  • I Ketut Mawes ( Almarhum )
  • I Wayan Sinti
Berdasarkan pengamatan penulis minimal ada tiga faktor yang menentukan ketidaksuburan kehidupan tungguhan rebab di Bali antara lain :
  • Sedikitnya barungan gamelan yang menggunakan tungguhan rebab,sedikitnya jumlah seniman penyaji yang dapat memainkan tungguhan rebab
  • Jarangnya jumlah tungguhan rebab di bali karena sudah tidak ada yang membuatnya, karena adanya anggapan bahwa tungguhan rebab merupakan tungguhan khusus yang disajikan oleh orang-orang yang sudahb lanjut usia
  • Tungguhan rebab dianggap paling sukaruntuk dipelajari.adanya faktor-faktor penghambat tersebut akan tidak tertarik untuk belajar bermain rebab
Dengan situasi seperti iitu  kiranya perlu adanya langkah-langkah kongkrit untuk mengatasi faktor-faktor tersebut diatas dalam rangka melestarikaan tungguhan rebab di Bali pada khususnya.

B . Bentuk Rebab Bali
Dilihat dari segi bentuknya,tungguhan rebab bali terdapat kekhusussan dalam hal bebetan, ukuran, dan pontang.bentuk bebeetannnya mencerminkan latar belakang budayanya dalam hal ini adalah budaya Bali.ukuran rebab bali baik ukuran besar maupun tingginya relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran rebab rebab Jawa Tengah maupun rebab Jawa Barat ( Sunda ).pada umumnya rebab Bali hampir seluruhnya menggunakan pontang yang dibuat dari perak yang dipasang pada bagian bebetan maaupun bantang rebab sesuai dengan bentuknya. Pontang dalam tungguhan rebab berfungsi sebagai hiasan.
Di bali terdapat beberapa bentuk rebab yang perbedaannyab terletak pada bebetaannya dan juga bagiaan batoknya yang berfungsi sebagai resonator.perbedaan bagian batok rebab terletak pada bentuk maupun bahan yang digunakan.Batok dibuat dari kayu atau tempurung kelapa.

C . Cara belajar Rebab Bali
Setelah mengenal tungguhan rebab, kemudian mulai belajar memainkaan tungguhan rebab dengan berbagai tahapan sebagai berikut :
  • Sikap duduk pengerebab
  • Posisi tungguhan rebab
  • Cara memegang tungguhan rebab
  • Cara memegang pengaradan
  • Cara menyetel rebab
  • Cara menekan kawat rebab
  • Cara menggesek rebab
  • Posisi jari pada laras pelog
  • Posisi jari pada laras slendro
  • Menekan kawat dan menggesek rebab
  • Garap rebab
  • Cara memelihara tungguhan rebab
1 . Sikap duduk pangrebab
Pada umumnya sikap dalam memainkan tungguhan gamelan di Bali selalu dilakukan dengan cara duduk bersila, kecuali jenis-jenis tungguhan jegog yang digunakan pada barungan gamelan jegog.

2. Posisi Tungguhan Rebab
Dalam memainkan rebab, pangrebab dalam posisi bersila, tungguhan rebab diletakkna atau berada di depan atau di tengah-tengah antara kaki kanan dan kaki kiri pengrebab.pada saat meletakkan rebab , bagian rebab yang paling bawah tidak dijepit dengan kedua kaki meskipun berada diantara kaki kanan dan kaki kiri.

3 . Memegang tungguhan Rebab
Pada saat penyajian suatu gending, tungguhan rebab selalu dipegang baik pada saat menggarap atau tidak menggarap suatu gending

4 . Memegang pengaradan
Langkah ini sangat perlu diketahui oleh para pengrebab,karena kalau salaah memegang pengesek rebab ( Pengaradan ), rebab tersebut tidak akan berbunyi karena plastiknya tidak kencang.

5 . Menyetel rebab
Seorang pengrebab harus bisa menyetel rebabnya dengan barungan gamelan yang akan di ikutinya,karena setelan rebab yang dapat menentukan tutuoan atau posisi jari yang akan digunakan.

6 . Menekan kawat rebab
Untuk menimbulkan nada, disamping kawat tersebut digesek juga ditekan kawatnya dengan menggunakan jari-jari sesuai dengan posisinya.cara menekan kawat rrebab ada dua, yaitu menekan kawat dengan ujung jari dan menggunakan bagian belakang jari.

7 . Menggesek rebab
Menggesek kawat rebab adalah salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas siara rebab.kawat digesek sambil menekan “secukupnya” penggesek rebab.artinya apabila kawat digesek dengan tekanan terlalu keras maka akan menimbulkan kualitas suara yang kurang baik atau tidak jernih.

8 . Posisi jari pada laras Pelog
Dalam memainkan rebab Bali mengenal dua jenis tutupan,yaitu tutupan ndung dan tutupan ndong. Untuk mewujudkan tutupan ini dengan cara kawat yang terletak sebelah kanan disetel sesuai dengan jenis tutpannya.

9 . Posisi jari pada laras Slendro
Gending-gending yang berlaras slendro jarang-jarang menggunakan rebab Bali kecuali pada Vokal atau tembang, itupun jarang penggunaannya.

10 . Menekan dan Menggesek kawat rebab
Setelah mengetahui posisi jari maka selanjutnya belajar menekan kawat sambil menggesek rebab.tahapan ini dimulai dari jari telunjuk tangan kiri menekan kawat, kemudian tangan kanan menggesek rebab sesuai dengan petunjuk diatas secara terus-menerus sampai dirasakan terdapat keseimbangan antara tangan kiri yang menekan kawat dengan tangan kanan yang menggesek kawat rebab.



D. BENTUK DAN NAMA-NAMA BAGIAN REBAB

Dilihat dari segi bentuknya, tungguhan rebab bali terdapat kekhususan dalam hal bebetan, ukuran dan pontang. Di bali terdapat beberapa bentuk rebab yang perbedaanya terdapat pada bebetannya dan juga bagian batoknya yang berfungsi sebagai resonator. Perbedaan batok rebab terletak pada bentuk maupun bahan yang di gunankan. Batok dibuatb dari kayu atau tempurung kelapa.
Nama-nama bagian rebab di bawah ini :
  1. Menur
  2. Kuping
  3. Irung-irung
  4. Bantang
  5. Kawat
  6. Bebetan
  7. Penyanteng
  8. Jejebug
  9. Batok
  10. Babad
  11. Batis
  12. Gegemelan
  13. Pengaradan
  14. Gondorukem / harpus
cara memainkan rebab ( Tabuh Sekar leled) :


Cara memainkan Tabuh lengker cenik :



Share:

Translate

Subscribe Channel

Followers

Pengunjung Blog

Flag Counter

Total Pageviews

Labels

Hosting Unlimited Indonesia