Haloow.... selamat datang kembali di blog ini, dan hari ini kembali saya akan memberikan tutorial bagaimana cara membuat Seruling Bali dari pipa PVC. Namun seruling ini suaranya hampir mirip dengan saxophone. Seruling merupakan alat musik tiup dan biasanya dimainkan secara solo ataupun sebagai pengiring melodi gambelan.
Nah, untuk cara membuatnya saya akan jelaskan dibawah ini, untuk bahan-bahan yang diperlukan adalah :
Pipa PVC
Balon karet
Karet Gelang
Skrip Rambut Wanita
Lakban / Selotip
Pipa pvc ukuran 1/2 inchi
Balon karet
Dua buah karet gelang
Skrip rambut wanita ukuran 7 cm
Lakban / Selotip Hitam
Cara membuatnya :
Lubangi pipa sesuai dengan ukuran berikut ini
Gunting balon karet tersebut tepat bagian lehernya yang nantinya dipergunakan untuk tempat masuk dan keluar anginnya
Setelah pipa pvc dilubangi lekukan skrip rambut wanita menyerupai bentuk "L"
Posisikan skrip rambut wanita tersebut disebelah belakang pipa yang telah dilubangi
Ikat skrip wambut wanita tersebut dengan karet gelang bagian atas dan bagian bawahnya
Agar terlihat rapi rekatkan lakban / selotip pada karet gelang tersebut.
Balon karet ditarik dan dipasang ke ujung skrip rambut tersebut
Seruling telah bisa digunakan
Nah, demikian tutorial cara membuat seruling dari pipa pvc dengan nuansa saxophone, untuk lebih jelasnya kalian bisa cek youtube dibawah ini, mohon dibantu untuk like, share dan subscribe agar saya bisa lebih bersemangat lagi dalam membuat konten-konten yang bermanfaat.
Mungkin
barang bekas merupakan benda yang tidak ternilai harganya. Namun jika barang bekas tersebut dipilah dan
didaur ulang akan menghasilkan suatu karya seni yang sangat ternilai. Barang
bekas dapat dijadikan barang kerajinan tangan maupun alat musik.
Daur
ulang adalah
proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi barang baru dengan tujuan mencegah
adanya sampah
yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan
baku yang baru, mengurangi penggunaan energi,
mengurangi polusi,
kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang
baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah
padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan,
pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai, dan komponen utama
dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 4R (Reduce, Reuse, Recycle,
and Replace).
Untuk
kesempatan kali ini saya ingin berbagi kepada kalian cara membuat alat
musik gesek (rebab) yang terbuat dari pipa paralon dan kaleng bekas. Selain
untuk menghemat biaya juga bisa digunakan untuk pembelajaran.
Bahan-bahan
:
Pipa paralon bekas
Kaleng bekas
Kawat pancing stainless trolling dan leader wire ukuran
25 (hard)
Triplek bekas
Mika plastik
Paku ulir 3 buah
Selotip / Double Tipe / Lem Tembak
Penggesek rebab , atau bisa menggunakan bow (penggesek
pada biola), atau bisa dibuat menggunakan papan triplek atau gantungan baju.
Penggesek menggunakan tali plastik ukuran yang paling kecil dan diikat pada
masing-masing ujungnya
Hars / Rosin berfungsi untuk membuat penggesek rebab
menjadi keset dan tidak licin. Tujuan utamanya untuk memberikan aksen suara
ketika digesek.
Cara Membuat :
Berikan lubang pada pipa paralon
Bawah pipa diberikan lubang 1 di bagian depan tujuannya untuk penyangga senar
Atas pipa diberikan lubang kecil 2 di bagian depan pipa
Kanan dan kiri pipa bagian atas diberikan lubang sebanyak 2 buah
Lubangi kaleng bekas pada ujung atas dan ujung bawah,
usahakan agar dekat dengan pinggiran kaleng
Pasang paku ulir pada bagian bawah dan bagian atasnya.
Pada bagian bawah untuk tempat penyangga senar
Pada bagian atas tempat untuk menyetel senar
Potong mika plastik berbentuk lingkaran dan ditempel pada
depan kaleng, usahakan agar plastik tersebut kencang dan tidak kendor
Pasang kawat stainless pancing pada paku ulir pertama
kemudian diikuti sampai bawah, pada bagian bawah buat lilitan agar kawat bisa disambungkan
ke atas. Setelah sampai diatas dililit kembali. Usahakan agar senar tidak
kendor, dan tidak terlalu kencang
Bentuk triplek bekas berbentuk prisma ukurannya sekitar 2 cm, dan buat 2 buah guratan
untuk tempat senar sebagai penyangga.
Buat penggesek biola dengan bahan triplek atau gantungan
baju dan diikat tali plastik ukuran paling kecil, diikat menjadi satu agar terlihat
banyak.
Gosokan hars/rosin padatali plastik tersebut (penggesek) bertujuan untuk memberikan aksen suara saat digesek.
Alat musik rebab sudah bisa digunakan.
Untuk hasilnya saya upload di youtube, mohon untuklike, subscribe dan share. Agar saya bisa bersemangat membuat eksperiment yang menarik lagi.Terima kasih
Seni gamelan khas dan langka Karangasem yang diberi nama “Penting” atau bisa disebut dengan Mandolin. Kesenian Penting pernah mencapai masa keemasannya pada masa-masa akhir kerajaan Karangasem. Sampai pada era tahun 1980-an kesenian ini masih mudah dijumpai dalam bentuk perorangan maupun seka dan pernah beberapa kali tampil di televisi dan di PKB. Namun setelah beberapa tahunnya Kesenian Penting mulai kelam, karena kebanyakan tokoh-tokohnya meninggal dunia. Disamping itu desakan dari kesenian modern dan perkembangan dunia modern membuat kesenian penting ini semakin terancam, karena minat dari kalangan anak muda untuk memainkan alat musik ini agak kurang. Anak muda jaman sekarang lebih ke genre musik modern seperti memainkan gitar.
Seiring berkembangnya zaman sedikit demi sedikit kesenian penting sudah mulai diminati kembali. Banyaknya sekaa penting sudah bersinergi di sanggar-sanggar kesenian maupun komunitas kesenian. Sesudah itu muncul Sekaa Penting binaan Puri Gede Karangasem koordinator Ida Bagus Jaya Negara, S.H. Peminat kalangan muda untuk memainkan alat musik penting sudah semakin meningkat, lagu-lagu klasik dan perkembangan kesenian inovatif yang terdapat alat musik penting sudah mulai berkembang. Alat musik penting sudah dikolaborasikan dengan genjek, dengan gong suling, serta joged bumbung. Penulis berharap semua kesenian di Bali pada khusunya dan di Indonesia pada umumnya semakin mengancah dunia internasional.
Seperti Dikutip Dari Wikipedia. Sejarah Alat Musik ini Berawal ketika
pihak wengker atau ponorogo melakukan pemberontakan kepada majapahit,
dan ketika adanya serbuan dari Demak angklung-angklung dan gamelan di
bawa ke Bali sehingga mengalami kerusakan. Pada saat berada di bali,
orang majapahit mengalami kesulitan dalam merangkai gamelan termasuk
Angklung, angkung ini berubah nama menjadi rindik yang berasal dari
bahasa jawa kuno yang berarti di tata dengan rapi dengan celah yang
sedikit. walaupun angklung reyog berhasil dirangkai dan terciptanya alat
musik Rindik, Angklung Reyog tetap di gunakan untuk keperluan keagamaan
dan kesenian hingga era kerajan Bali. Tetapi saat ini sudah tidak di
teruskan seniman bali karena tidak mencerminkan keraifan lokal Bali.
Fungsi Alat Musik Rindik
Alat musik ini terbuat dari bambu yang bernada selendro dan dimainkan
dengan cara dipukul. dan biasanya dimainkan oleh 2-5 orang pemain, di
mana 2 orang menabuh Rindik dan sisanya untuk seruling dan gong pulu.
Pada awalnya fungsi alat musik rindik hanya dibuat sebagai alat untuk
menghibur para petani di sawah. Rindik juga biasa digunakan sebagai
musik pengiring hiburan rakyat Joged Bumbung. Namun, seiring dengan
perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam
pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara
pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.
Alat musik ini biasanya di pergunakan pada upacara perkawinan dan acara
pertunjukan yang di kenal dengan nama "joged Bumbung" Tarian joged
bumbung ini biasanya di iringi oleh sepuluh atau duapuluh orang yang
memainkan gamelan dan termasuk para penabuhnya. Dan Bisa juga di pakai
atau di mainkan di hotel-hotel untuk mengibur para tamu yang berkunjung
ke Bali.
Bentuk Alat Musik Rindik
Rindik
merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang sudah dipotong-potong dan ditata
sesuai ukurannya. Jumlah potongan bambu tersebut biasanya terdiri dari 11 buah
sampai 13 buah. Setiap buah bambu memiliki ukuran yang berbeda dan nada yang
berbeda pula. Semakin besar ukuran bambu maka semakin bernada rendah, seBaliknya
semakin kecil bambu tersebut maka semakin tinggi nada yang dihasilkan. Bambu
tersebut ditata diatas tempat(pelawah)
dimulai dari nada paling rendah di sudut kiri hingga nada paling tinggi di sudut
paling kanan.
Nada yang dihasilkan oleh Rindik ini
merupakan nada Pentatonic atau Laras slendro, yang berarti hanya
memiliki 5 nada utama. Rindik ini dimainkan dengan menggunakan 2 buah alat
pemukul yang terbuat dari karet dan memiliki ukuran yang berbeda. Pemukul
berukuran besar biasanya digunakan di tangan sebelah kiri begitu juga sebaliknya.
Hal ini dikarenakan nada paling kiri lebih rendah sehingga saat dimainkan
terdapat sebuah keseimbangan nada.
Cara Memainkan Alat Musik Rindik
Cara memainkan Rindik ini juga
membutuhkan keahlian khusus dan feel
yang cocok. Rindik biasannya dimainkan dengan dua tangan, dimana fungsi
keduanya berbeda. Pada tangan kanan memainkan kotekan sedangkan yang kiri memainkan melodi. Sehingga apabila
digabungkan akan menghasilkan suara yang merdu.
Pemain Rindik juga dibedakan menjadi
dua macam, yang pertama memainkan pokok
lagu/gendhing, dan satunya memainkan sangsih.
Apabila keduanya dipadukan maka akan menghasilkan suara yang harmonis.Dalam
permainan Rindik juga terdapat teknik pukulan yang dinamakan ngundil, yaitu teknik pukulan yang
dilakukan tangan kiri pemain sangsih dimana pukulan tersebut menyelingi pukulan
tangan kiri pemain pokok yang sudah divariasikan. Pada pertunjukan joged bumbung, teknik seperti itu sering
disebut dengan jegog.
Perkembangan Alat Musik Rindik
Dalam perkembangannya,
musik Rindik menjadi salah satu alat musik yang lebih fleksibel dan memiliki fungsi yang lebih banyak. Selain bisa
digunakan sebagai pengiring pertunjukan tari, musik Rindik juga bisa
ditampilkan sebagai pertunjukan musik seperti pengiring pernikahan dan resepsi.
Selain itu juga bisa ditampilkan di acara festival budaya, penyambutan tamu
besar dan acara budaya lainnya.
Sekian pengenalan tentang
“Rindik Alat Musik Tradisional Dari Bali”. Semoga bermanfaat dan menambah
pengetahuan anda tentang ragam kesenian
tradisional di indonesia.
Gender
Wayang
adalah barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya yang terdiri dari 4
tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri
dari sepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender,
masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan
2 panggul.
Gender
wayang
ini juga dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk
mengiringi pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang
dipergunakan.
Untuk
upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade
(pengusung mayat) dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan. Untuk
mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan
sepasang kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan
sebuah barungan yang disebut gamelan Batel Gender Wayang.
Pertunjukan
wayang kulit yang lengkap biasanya memakai sejumlah tabuh yang berdasarkan
fungsinya.
Tabuh-tabuh yang dimaksud antara lain:
Pategak (pembukaan) yang
merupakan tabuh instrumentalia
Tabuh Pamungkah gending-gending
untuk mengiringi dalang melakukan puja mantra persembahan, membuka kotak wayang
(kropak)
Tabuh Patangkilangending
untuk mengiringi adegan pertemuan/persidangan
Tabuh angkat-angkatangending
untuk mengiringi adegan sibuk seperti keberangkatan laskar perang dan
perjalanan
Tabuh rebonggending
untuk mengiringi adegan roman
Tabuh tangisgending
untuk mengiringi suasana sedih
Tabuh batel gending
untuk mengiringi adegan perang
Tabuh
panyudamalangending khusus untuk
mengiringi upacara pangruwatan (dalam Wayang Sapuh Leger)
Ibarat musik modern,
aliran dari instrumen atau gamelan gender ini adalah jazz. Jadi jika ingin
belajar main gender, selain belajar cara menggenggam dan memukul, juga butuh
menyerap lirik lagu dengan ekstra. Karena keunikan ini, gender kini banyak
dipelajari oleh orang-orang Jepang, Korea, dan USA.
Di Bali, instrumen gender kebanyakan digunakan saat upacara manusa yadnya
seperti potong gigi, pawiwahan (perkawinan) dan menek kelih,
Kesenian wayang kulit di Bali juga diiringi dengan
menggunakan gamelan gender wayang atau Pewayangan dalam pementasan atau
pertunjukannya.
Dikutip dalam Babad Bali, Gamelan Gender Wayang dengan
instrumen yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima
nada). Keempat gender ini terdiri dari :
Sepasang gender pemade (nada agak besar).
Sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender,
masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan
mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang ini juga
dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara
Pitra Yadnya (ngaben). Untuk kedua upacaranya ini, dan untuk mengiringi
pertunjukan wayang lemah (tanpa kelir), hanya sepasang gender yang
dipergunakan.
Untuk upacara ngaben 2 gender dipasang di kedua sisi bade (pengusung mayat)
dan dimainkan sepanjang jalan menuju kuburan.
Untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit Ramayana, wayang wong Ramayana
maupun Mahabharata (Parwa), 2 pasang gender ini dilengkapi dengan sepasang
kendang kecil, sepasang cengceng kecil, sebuah kajar, klenang dan
instrumen-instrumen lainnya, sehingga melahirkan sebuah barungan yang disebut
gamelan Batel Gender Wayang.
A . Rebab
Rebab merupakan salah satu nama tungguhan atau instrumen gesek yang
digunakan dalam jenis-jenis barungan yang terdapat di Daerah-daerah
tertentu seperti daerah Bali,Jawa Timur,Jawa Tengah.Jawa Barat,Sumatra,
dan sebagainya
Di Jawa Barat terdapat dua bentuk instrumen gesek, yaitu Rebab dan
Tarawangsa.kedua instrumen ini ukurannya berbeda,selain ukurannya yang
berbedsa,warna suaranya pun juga berbeda karena membran yang berbeda
Di Sumat5ra Barat ( Minangkabau ) instrumen Rebab disebut dengan
rabab.ada tiga bentuk/jenis rebab yang berbeda yang berkembang di
Minangkabau, yaitu :
Rabab Darek
Rebab Pariaman
Rebab Pasisir
Adapun kesamaan antara tungguhan instrumen rebab dari masing-masing
daerah yaitu sama-sama menggunakan alat gesek,menggunakan sejenis senar
atau kawat,terdapat bagian menyetel kawat untuk menimbulkan nada,dan
menggunakan resonator.
Dalam menggarap gending,Rebab dimainkan dengan cara kawat atau yang
sejenisnya digesek dengan penggesek yang arahnya maju dan mundur secara
bebas,kecuali Rebab Jawa Tengah yang digunakan pada barungan gamelan
Ageng,maju mundurnya gesekan rebab ditentukan oleh kedudukan nada.
Tungguhan rebab bali dalam menggarap gending tidak ditentukan baik
dalam menggarap gending-gending instrumental mauoun vokal ( Tembang
Daerah ). Menurut pengamatan kami keberadaan rebab di Bali dapat
dikatakan masih asing karena sedikitnya barungan gamelan yang
menggunakan maupun jumlah penyajiannya yang relatip sedikit dibandingkan
dengan jenis tungguhan lainnya seperti tungguhan kendang, pemade,
kantil, kempul, kajar, ceng-ceng, gong, dan yang lainnya.
Adapun barungan gamelan yang seharusnya menggunakan tungguhan rebab seperti :
Gong kebyar
Gong Suling
Semar pagulingan Saih Lima
Semar pagulingan Saih Pitu
Pangarjan
Pagambuhan
Tungguhan rebab dalam jenis-jenis barungan gamelan tersebut
mempunyaifungsi yang berbeda terutama dari segi musikal.misalnya dalam
barungan gamelan pegambuhan,tungguhan rebab merupakan salah satu
tunguhan yang menggarap atau menyajikan melody atau gending pada seluruh
sajian gending repertoar.dalam barungan gamelan Pegambuhanselain
gamelan Pegambuhan yang menggarap atau menyajikan juga tungguhan Suling
yang berukuran besar ataub sering disebut Suling Pagambuhan,sedangkan
tungguhan rebab pada jenis-jenis barungan gamelan lainnya,peranan rebab
tidak seperti barungan gamelan lainnya,peranan rebab tidak seperti
barungan gamelan Pegambuhan,yaitu lebih menekankjan pada pemantapan
hasiln sajian suatu gending atau sering juga disebut oleh masyarakat
luas adalah untuk memaniskan gending.dalam baarungan gamelan ini (
selain barungan pegambuhan ) tidak semua sajian gending atau bagian
gending yang menggunakan tungguhan rebab seperti dalam gending Gong
Kebyar,pada bentuk atau bagian gending Kebyar, babelat, sajian tabuhan
tunggal.meskipun peranan tungguhan rebab dalam jenis-jenis barungan
gamelan tersebut hanya terbatas untuk memaniskan sajian gending tapi
dapat menentukan kualitas sajian gending secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil penelitian penulis tahun 1980-an,di Bali hanya
dapat ditemui beberapa orang seniman yang memiliki predikat sebagain
pengrebab, yaitu:
I Wayan Barug ( Almarhum )
I Ketut Mertu ( Almarhum )
I Made Lemping ( Almarhum )
I Wayan Lotok ( Almarhum )
I Ketut Mawes ( Almarhum )
I Wayan Sinti
Berdasarkan pengamatan penulis minimal ada tiga faktor yang
menentukan ketidaksuburan kehidupan tungguhan rebab di Bali antara lain :
Sedikitnya barungan gamelan yang menggunakan tungguhan
rebab,sedikitnya jumlah seniman penyaji yang dapat memainkan tungguhan
rebab
Jarangnya jumlah tungguhan rebab di bali karena sudah tidak ada yang
membuatnya, karena adanya anggapan bahwa tungguhan rebab merupakan
tungguhan khusus yang disajikan oleh orang-orang yang sudahb lanjut usia
Tungguhan rebab dianggap paling sukaruntuk dipelajari.adanya
faktor-faktor penghambat tersebut akan tidak tertarik untuk belajar
bermain rebab
Dengan situasi seperti iitu kiranya perlu adanya langkah-langkah
kongkrit untuk mengatasi faktor-faktor tersebut diatas dalam rangka
melestarikaan tungguhan rebab di Bali pada khususnya.
B . Bentuk Rebab Bali
Dilihat dari segi bentuknya,tungguhan rebab bali terdapat kekhusussan
dalam hal bebetan, ukuran, dan pontang.bentuk bebeetannnya mencerminkan
latar belakang budayanya dalam hal ini adalah budaya Bali.ukuran rebab
bali baik ukuran besar maupun tingginya relatif lebih kecil dibandingkan
dengan ukuran rebab rebab Jawa Tengah maupun rebab Jawa Barat ( Sunda
).pada umumnya rebab Bali hampir seluruhnya menggunakan pontang yang
dibuat dari perak yang dipasang pada bagian bebetan maaupun bantang
rebab sesuai dengan bentuknya. Pontang dalam tungguhan rebab berfungsi
sebagai hiasan.
Di bali terdapat beberapa bentuk rebab yang perbedaannyab terletak
pada bebetaannya dan juga bagiaan batoknya yang berfungsi sebagai
resonator.perbedaan bagian batok rebab terletak pada bentuk maupun bahan
yang digunakan.Batok dibuat dari kayu atau tempurung kelapa.
C . Cara belajar Rebab Bali
Setelah mengenal tungguhan rebab, kemudian mulai belajar memainkaan tungguhan rebab dengan berbagai tahapan sebagai berikut :
Sikap duduk pengerebab
Posisi tungguhan rebab
Cara memegang tungguhan rebab
Cara memegang pengaradan
Cara menyetel rebab
Cara menekan kawat rebab
Cara menggesek rebab
Posisi jari pada laras pelog
Posisi jari pada laras slendro
Menekan kawat dan menggesek rebab
Garap rebab
Cara memelihara tungguhan rebab
1 . Sikap duduk pangrebab
Pada umumnya sikap dalam memainkan tungguhan gamelan di Bali selalu
dilakukan dengan cara duduk bersila, kecuali jenis-jenis tungguhan jegog
yang digunakan pada barungan gamelan jegog.
2. Posisi Tungguhan Rebab
Dalam memainkan rebab, pangrebab dalam posisi bersila, tungguhan
rebab diletakkna atau berada di depan atau di tengah-tengah antara kaki
kanan dan kaki kiri pengrebab.pada saat meletakkan rebab , bagian rebab
yang paling bawah tidak dijepit dengan kedua kaki meskipun berada
diantara kaki kanan dan kaki kiri.
3 . Memegang tungguhan Rebab
Pada saat penyajian suatu gending, tungguhan rebab selalu dipegang baik pada saat menggarap atau tidak menggarap suatu gending
4 . Memegang pengaradan
Langkah ini sangat perlu diketahui oleh para pengrebab,karena kalau
salaah memegang pengesek rebab ( Pengaradan ), rebab tersebut tidak akan
berbunyi karena plastiknya tidak kencang.
5 . Menyetel rebab
Seorang pengrebab harus bisa menyetel rebabnya dengan barungan
gamelan yang akan di ikutinya,karena setelan rebab yang dapat menentukan
tutuoan atau posisi jari yang akan digunakan.
6 . Menekan kawat rebab
Untuk menimbulkan nada, disamping kawat tersebut digesek juga ditekan
kawatnya dengan menggunakan jari-jari sesuai dengan posisinya.cara
menekan kawat rrebab ada dua, yaitu menekan kawat dengan ujung jari dan
menggunakan bagian belakang jari.
7 . Menggesek rebab
Menggesek kawat rebab adalah salah satu faktor penting dalam
menentukan kualitas siara rebab.kawat digesek sambil menekan
“secukupnya” penggesek rebab.artinya apabila kawat digesek dengan
tekanan terlalu keras maka akan menimbulkan kualitas suara yang kurang
baik atau tidak jernih.
8 . Posisi jari pada laras Pelog
Dalam memainkan rebab Bali mengenal dua jenis tutupan,yaitu tutupan ndung dan tutupan ndong. Untuk mewujudkan tutupan ini dengan cara kawat yang terletak sebelah kanan disetel sesuai dengan jenis tutpannya.
9 . Posisi jari pada laras Slendro
Gending-gending yang berlaras slendro jarang-jarang menggunakan rebab
Bali kecuali pada Vokal atau tembang, itupun jarang penggunaannya.
10 . Menekan dan Menggesek kawat rebab
Setelah mengetahui posisi jari maka selanjutnya belajar menekan kawat
sambil menggesek rebab.tahapan ini dimulai dari jari telunjuk tangan
kiri menekan kawat, kemudian tangan kanan menggesek rebab sesuai dengan
petunjuk diatas secara terus-menerus sampai dirasakan terdapat
keseimbangan antara tangan kiri yang menekan kawat dengan tangan kanan
yang menggesek kawat rebab.
D. BENTUK DAN NAMA-NAMA BAGIAN REBAB
Dilihat dari segi bentuknya, tungguhan rebab bali terdapat kekhususan
dalam hal bebetan, ukuran dan pontang. Di bali terdapat beberapa bentuk
rebab yang perbedaanya terdapat pada bebetannya dan juga bagian
batoknya yang berfungsi sebagai resonator. Perbedaan batok rebab
terletak pada bentuk maupun bahan yang di gunankan. Batok dibuatb dari
kayu atau tempurung kelapa.
Nama-nama bagian rebab di bawah ini :